BerandaArtikel › Tahfizh
Tahfizh

Menghafal Al-Qur'an: Menjaga, dan Pada Akhirnya Dijaga

Hafalan tidak selesai pada hari terakhir setoran. Justru di situ pekerjaan yang sebenarnya dimulai.

Kategori: TahfizhPerkiraan baca: 6 menit
Santri melantunkan hafalan dengan mushaf terbuka di hadapannya
Ilustrasi setoran hafalan santri. Bukan dokumentasi An-Nidhomiyah.

Banyak orang mengira tantangan terbesar seorang penghafal Al-Qur'an adalah menambah hafalan baru. Padahal yang paling berat adalah menjaga yang sudah ada.

Menghafal tiga puluh juz bukan perkara kecerdasan semata. Anak yang biasa saja bisa sampai, dan anak yang sangat cerdas bisa berhenti di tengah jalan. Yang membedakan biasanya satu hal: ketekunan mengulang.

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْأَنَ لِلذِّكْرِ
"Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur'an untuk peringatan."
QS. Al-Qamar: 17

Ayat ini sering dibacakan kepada santri yang sedang patah semangat. Kemudahan itu dijanjikan, tetapi tetap menuntut kesungguhan — sebagaimana jalan yang sudah diratakan tetap harus ditempuh dengan berjalan.

Setoran dan Muraja'ah

Keseharian program tahfizh berputar di antara dua kegiatan. Setoran adalah menambah hafalan baru dan membacakannya di hadapan pembimbing. Muraja'ah adalah mengulang hafalan lama agar tidak hilang.

Santri baru biasanya bersemangat pada yang pertama dan malas pada yang kedua. Padahal perbandingannya justru terbalik: semakin banyak hafalan, semakin besar porsi waktu yang harus diberikan untuk mengulang. Seorang yang sudah hafal dua puluh juz bisa menghabiskan sebagian besar waktunya hanya untuk menjaga, dengan tambahan baru yang sedikit saja.

Pembimbing biasanya menekankan beberapa hal:

Menjaga Diri Sendiri Lebih Dulu

Para masyayikh sering mengingatkan bahwa hafalan mudah hilang bukan hanya karena jarang diulang, tetapi juga karena hati yang tidak dijaga. Mata yang dibiarkan liar, lisan yang gemar membicarakan orang, waktu yang habis untuk hal sia-sia — semuanya berpengaruh, meski tidak selalu langsung terasa.

Karena itu di pesantren, program tahfizh tidak pernah berdiri sendiri. Ia berjalan bersama pembinaan akhlak, disiplin ibadah, dan kajian kitab. Anak yang hanya dilatih menghafal tanpa dibentuk akhlaknya akan kehilangan salah satunya, cepat atau lambat.

Yang Ditunggu Bukan Wisudanya

Hari khataman memang membahagiakan. Keluarga datang, doa dibacakan, air mata jatuh. Tetapi para pembimbing tahu bahwa hari itu bukan garis akhir. Yang menentukan adalah lima atau sepuluh tahun sesudahnya: apakah hafalan itu masih terjaga ketika santri sudah pulang, sudah sibuk bekerja, sudah punya anak.

Maka yang ditanamkan sejak awal bukan target selesai, melainkan kebiasaan seumur hidup. Sebab pada akhirnya, orang yang menjaga Al-Qur'an akan mendapati dirinya justru yang dijaga.

Catatan. Tulisan ini disusun sebagai bahan bacaan umum bagi calon santri dan wali. Untuk ketentuan yang berlaku di Pondok Pesantren An-Nidhomiyah, silakan menghubungi narahubung pesantren. Naskah masih dalam tahap tinjauan dan menunggu tashih dari pengasuh sebelum ditayangkan secara resmi.

Ingin Mondok di An-Nidhomiyah?

Alur pendaftaran, persyaratan, dan formulir pendaftaran santri baru tersedia lengkap di halaman PPDB.

Buka Halaman PPDB Chat Panitia

Bacaan Lainnya