Orang menyebutnya kitab kuning karena warna kertasnya. Tetapi yang membuat kitab-kitab ini istimewa bukan warnanya, melainkan rantai keilmuan yang menyertainya sampai ke penulisnya.
Kitab kuning adalah sebutan populer untuk kitab-kitab keislaman klasik berbahasa Arab yang menjadi rujukan utama di pesantren. Sebagian ditulis ratusan tahun lalu, disalin dari tangan ke tangan, dicetak ulang berkali-kali, dan sampai hari ini masih dibaca dengan cara yang kurang lebih sama seperti dulu: dibacakan guru, disimak murid, dimaknai kata per kata.
Kenapa Tanpa Harakat?
Yang sering membuat orang luar heran, sebagian besar kitab ini ditulis gundul — tanpa tanda baca vokal. Bagi pembaca pemula ini menyulitkan. Tetapi bagi pesantren, justru itulah latihannya.
Untuk bisa membaca teks gundul dengan benar, seorang santri harus lebih dulu menguasai tata bahasa Arab: nahwu yang mengatur kedudukan kata dalam kalimat, dan sharaf yang mengatur perubahan bentuk kata. Tanpa keduanya, satu kalimat bisa dibaca dengan beberapa kemungkinan makna yang berbeda jauh. Maka membaca kitab kuning bukan sekadar melafalkan, melainkan memahami struktur kalimatnya lebih dulu.
Karena itu di pesantren dikenal istilah "ngesahi" atau memaknai: santri menuliskan arti setiap kata dengan huruf pegon kecil-kecil di bawah baris, lengkap dengan kode kedudukan kalimatnya. Kitab yang sudah dimaknai penuh adalah tanda bahwa santri pernah menempuh kelas itu sampai selesai.
Berjenjang, Bukan Melompat
Kitab-kitab di pesantren tersusun berjenjang. Santri tidak langsung diberi kitab besar, melainkan mulai dari matan ringkas yang dihafal, lalu naik ke syarah yang menjelaskan, lalu ke kitab yang lebih luas pembahasannya. Pola ini berlaku hampir di semua bidang:
- Nahwu & sharaf — fondasi bahasa, dipelajari lebih dulu karena menjadi kunci semua kitab lain.
- Fikih — tata cara ibadah dan muamalah, dari yang paling ringkas sampai pembahasan dalil dan perbedaan pendapat.
- Tauhid — pokok-pokok keyakinan.
- Akhlak & tasawuf — pembersihan hati dan adab keseharian.
- Tafsir & hadis — dipelajari setelah bekal bahasa cukup kuat.
Urutan ini bukan formalitas. Santri yang melompat langsung ke kitab tafsir tanpa bekal nahwu biasanya berhenti sendiri, karena tidak sanggup mengurai kalimatnya.
Sanad: Rantai yang Menjaga
Satu hal yang membedakan pesantren dari belajar mandiri adalah sanad, yaitu rantai periwayatan keilmuan. Seorang kiai mengaji kepada gurunya, guru itu mengaji kepada gurunya lagi, dan seterusnya sampai ke penulis kitab. Rantai inilah yang menjaga agar pemahaman tidak melenceng, karena setiap generasi mewarisi bukan hanya teksnya, tetapi juga cara membacanya.
Karena itu di pesantren tidak cukup "sudah pernah baca". Yang dihitung adalah "mengaji kepada siapa". Buku bisa dibeli siapa saja; pemahaman yang benar diwariskan lewat majelis.
Masih Relevan?
Pertanyaan ini sering muncul, apalagi ketika terjemahan dan ceramah tersedia melimpah di layar telepon. Jawaban pesantren biasanya sederhana: yang tersedia di layar adalah kesimpulan, sementara kitab kuning mengajarkan bagaimana kesimpulan itu diambil.
Santri yang terbiasa membaca kitab akan tahu bahwa satu masalah bisa punya beberapa pendapat, masing-masing dengan alasannya. Ia jadi tidak mudah menyalahkan, tidak gampang terkejut oleh perbedaan, dan tahu kapan harus diam karena ilmunya belum sampai. Sikap seperti itu justru sangat dibutuhkan hari ini.