Menjelang keberangkatan, yang paling sibuk biasanya justru orang tua. Koper dibongkar pasang, barang ditambah terus. Padahal bekal yang paling menentukan tidak muat di dalam tas.
Tulisan ini disusun untuk membantu wali santri mempersiapkan anak sebelum mondok. Untuk daftar resmi perlengkapan dan ketentuan yang berlaku, silakan tetap menanyakan langsung kepada panitia penerimaan santri baru.
Barang yang Umumnya Dibawa
- Perlengkapan ibadah: sarung, baju koko, peci, sajadah, mukena bagi santri putri, dan mushaf Al-Qur'an.
- Pakaian harian secukupnya — jangan berlebihan, karena lemari pondok terbatas dan mencuci dilakukan sendiri.
- Perlengkapan mandi dan kebersihan pribadi, ember, gayung, serta gantungan pakaian.
- Alat tulis, buku catatan, dan tempat menyimpan kitab.
- Obat-obatan pribadi bila ada, disertai keterangan penggunaannya untuk pengurus.
Beri nama pada setiap barang. Di pondok, puluhan sarung berwarna sama akan berakhir tertukar bila tidak ditandai.
Kebiasaan yang Sebaiknya Dilatih Sejak di Rumah
Ini bagian yang sering terlewat. Anak yang belum pernah mengurus dirinya sendiri akan kaget di minggu pertama, dan rasa kaget itulah yang paling sering memicu keinginan pulang.
- Bangun sebelum Subuh sendiri, tanpa dibangunkan berkali-kali.
- Mencuci dan menjemur pakaian sendiri, termasuk melipat dan menyimpannya.
- Mengatur uang saku untuk beberapa hari, bukan habis dalam sehari.
- Makan apa adanya — anak yang terlalu pemilih akan kesulitan menyesuaikan diri.
- Terbiasa jauh dari layar, karena penggunaan alat komunikasi di pondok umumnya dibatasi.
Melatih hal-hal ini dua atau tiga bulan sebelum berangkat jauh lebih baik daripada memberi nasihat panjang pada hari keberangkatan.
Bagian yang Berat Justru untuk Orang Tua
Banyak wali santri terkejut menyadari bahwa yang paling sulit melepas bukan anaknya, melainkan dirinya sendiri. Beberapa hal yang biasanya disampaikan pengurus kepada orang tua:
- Jangan menampakkan ragu di depan anak. Anak membaca wajah orang tuanya. Kalau ibu menangis berlebihan saat berpamitan, anak akan menyimpulkan bahwa tempat ini menakutkan.
- Jangan menjanjikan "kalau tidak betah, boleh pulang". Kalimat ini terdengar melegakan, tetapi menjadi pintu yang selalu ia lihat setiap kali menghadapi kesulitan kecil.
- Bersabar di bulan pertama. Rindu rumah adalah hal wajar dan hampir selalu mereda dengan sendirinya setelah anak menemukan kawan dan ritmenya.
- Percayakan pada pengurus. Bila ada keluhan, sampaikan kepada pembina, bukan langsung menyimpulkan dari cerita sepihak anak yang sedang lelah.
- Doa jangan putus. Bagian ini yang paling sering disebut para kiai sebagai penentu, jauh melebihi kelengkapan bawaan.
Ukuran Keberhasilan Tahun Pertama
Orang tua kerap mengukur keberhasilan dari berapa juz yang sudah dihafal atau berapa kitab yang sudah dikhatamkan. Padahal pada tahun pertama, ukuran yang lebih jujur biasanya sederhana: anak betah, mau mengaji, hormat kepada guru, dan mulai bisa mengurus dirinya sendiri.
Kalau empat hal itu tercapai, sisanya akan menyusul. Pesantren bukan tempat yang bekerja dalam hitungan bulan, melainkan bertahun-tahun — dan buahnya sering baru terasa jauh setelah santri pulang.