Orang tua yang baru mengantar anaknya mondok sering bertanya hal yang sama: berapa lama sampai anak saya bisa menghafal? Pertanyaannya wajar. Tetapi di pesantren, hal pertama yang dibenahi biasanya bukan hafalan, melainkan adab.
Para ulama terdahulu punya kebiasaan yang mungkin terdengar aneh bagi telinga zaman sekarang: mereka menghabiskan waktu bertahun-tahun mempelajari adab sebelum menyentuh satu pun bab ilmu. Bukan karena ilmu tidak penting, melainkan karena ilmu yang jatuh ke hati yang tidak tertata justru bisa mencelakakan pemiliknya.
Di pesantren, adab tidak diajarkan sebagai satu mata pelajaran yang berdiri sendiri. Ia menyusup ke dalam hal-hal kecil: cara melepas sandal di depan majelis, cara mengambil kitab dengan tangan kanan, cara menunggu giliran setoran tanpa mendahului kawan, cara menunduk ketika berpapasan dengan kiai di lorong pondok. Hal-hal ini tampak sepele, tetapi justru di situlah karakter dibentuk.
Ilmu Adalah Cahaya, dan Cahaya Butuh Wadah yang Bersih
Ada perumpamaan yang sering diulang para masyayikh: ilmu itu cahaya, dan cahaya tidak akan menetap di tempat yang kotor. Hati yang penuh sombong, iri, atau meremehkan orang lain adalah tempat yang tidak layak untuk ilmu. Maka sebelum diisi, hati dibersihkan dulu.
Inilah sebabnya seorang santri diminta memuliakan gurunya. Bukan karena guru butuh dimuliakan, melainkan karena penghormatan itu melunakkan hati si murid sendiri. Hati yang lunak lebih mudah menerima. Hati yang keras akan menolak, sekalipun yang datang adalah kebenaran.
Doa ini pendek, tetapi menyimpan pelajaran besar. Yang diminta bukan kepandaian, bukan gelar, bukan pengakuan — melainkan tambahan ilmu. Dan yang meminta adalah seorang nabi. Kalau beliau saja masih meminta, apalagi kita.
Adab yang Ditanamkan di Pesantren
Ada beberapa hal yang hampir selalu ditekankan kepada santri baru, di pesantren mana pun:
- Memuliakan guru dan keluarganya. Tidak memotong pembicaraan, tidak berjalan mendahului, tidak memanggil dengan nama saja.
- Memuliakan kitab. Tidak diletakkan di lantai, tidak ditumpuk di bawah barang lain, tidak dijadikan alas.
- Sabar terhadap proses. Ilmu tidak turun sekaligus. Yang tergesa-gesa biasanya berhenti di tengah jalan.
- Menjaga lisan. Tidak menggunjing kawan sekamar, tidak membicarakan aib orang, tidak berbangga dengan hafalan.
- Berkhidmat. Menyapu halaman, mengisi bak air, membantu dapur — semuanya bagian dari belajar, bukan gangguan terhadap belajar.
Yang terakhir itu sering paling berat bagi santri baru. Anak yang di rumah terbiasa dilayani harus belajar melayani. Tetapi justru dari situ banyak santri mengaku mendapat pelajaran yang tidak ada di kitab mana pun.
Buahnya Baru Terasa Bertahun Kemudian
Adab bukan sesuatu yang hasilnya bisa dilihat di akhir semester. Ia baru kelihatan bertahun-tahun kemudian: ketika santri itu sudah pulang, sudah bekerja, sudah punya keluarga, dan orang-orang di sekitarnya merasa nyaman berada di dekatnya. Ketika ia diberi kelebihan tetapi tidak merendahkan yang lain. Ketika ia berbeda pendapat tetapi tetap menjaga lisan.
Itulah yang dicari pesantren. Bukan sekadar santri yang hafal, melainkan santri yang pantas dititipi ilmu.